Pengusaha VS Pengemis (part 2)

Pada tulisan sebelumnya telah dibahas tentang persamaan antara pengusaha dan pengemis. Sejujurnya penulis mengakui jika dalam kehidupan nyata memang belum pernah ada perilaku pengusaha yang bersikap layaknya 'pengemis imitasi' seperti pada tulisan sebelumnya. Kalaupun ada tidak terlalu mencolok seperti pada contoh postingan yang lalu. 

Selanjutnya, pada tulisan kali ini akan membahas perbedaan yang sangat mencolok antara pengusaha dan pengemis. Apa sajakah perbedaannya? dan bagaimanakah hal itu bisa terjadi? berikut ini penjelasannya :

Pengusaha berbeda dengan pengemis
  • Perbedaan yang pertama diantara keduanya terlihat dari tulisannya, yaitu yang satu berakhiran -ngemis dan yang satunya -usaha, dari tulisan saja sudah ketahuan 'kerja' apa yang ditonjolkan, yang satu ngemis dan yang satunya usaha.
  • Perbedaan yang kedua terdapat pada jenis pelanggan yang dipilih, jika pengemis dia akan memilih pelanggan yang mudah sekali 'merasa' kasihan, sedangkan pengusaha akan memilih pelanggan yang pintar dan bijak, menilai sesuatu produk sesuai dengan kebutuhan dan produk tersebut memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan produk selainnya.
  • Perbedaan yang ketiga adalah yang paling mencolok yaitu caranya mendekati/menarik pelanggan. Berikut ini penjelasannya :
Kali ini tidak akan dibahas tentang cara pengemis menarik pelanggannya, karena telah dibahas pada tulisan sebelumnya. Dan cara pengusaha menarik pelanggannya adalah dengan mengenalkan produknya dengan menunjukkan keunggulan produknya daripada produk selainnya, cara pemasaran produknya pun profesional, tak ada unsur memaksa, memelas, yang ada adalah meyakinkan pelanggan akan keunggulan produknya dan membuktikannya.

Jika pengusaha bergerak dibidang jasa maka yang lebih ditonjolkan adalah kualitas dari pelayanan, sang pengusaha akan 'memanjakan' pelanggannya dengan mengoptimalkan hasil kerjanya, pengusaha yang seperti ini tidak akan terlalu banyak bicara tapi lebih banyak bertindak / berusaha agar semua pekerjaan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya, kalaupun ada kendala di lapangan dia tidak akan banyak alasan, dan hanya satu tujuannya kepuasan pelanggan nomor satu.

Setelah membaca dua tulisan di blog ini (part 1 dan part 2) langkah selanjutnya adalah tanyakan pada diri kita masing-masing "mau memilih yang mana?" jadi pengemis? jadi pengemis imitasi? atau jadi pengusaha sesungguhnya?. Semua pilihan ada konsekuensinya, jika kita memilih harus siap dengan apapun yang akan terjadi selanjutnya. Untuk itulah sebelum memilih hendaknya kita merencanakan terlebih dahulu apa langkah selanjutnya? apa tindakan yang harus dilakukan jika terjadi kondisi yang tidak diinginkan?. Itu semua kembali pada individu masing-masing. Semakin banyak belajar maka semakin banyak pengetahuan yang anda dapatkan untuk menilai sebuah masalah dengan penilaian itulah kita bisa memilih tindakan yang tepat agar tidak menyesal dikemudian hari. Ingat belajar saja tidak cukup, tapi juga harus diaktualisasikan.

Terima kasih, wassalamu'alaikum

Komentar

  1. Siippp,..
    ini jelas mndasar perbedaanx,.
    uji mental, perencanaan matang, action,..
    bhkan ATM tu perlu (Amati, Tiru, dan Modifikasi)..
    dgn mnjual nilai tmbh prduk pda knsumen akan memberikn nilai jg bgi pgusaha,.

    "like this ms,. :) bermanfaat,. Lanjutkan..

    BalasHapus
  2. Bedanya pedagang sama pengusaha apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. pedagang = pengusaha yang bergerak di bidang jual-beli barang

      Hapus
  3. KEREN2 “pengusaha vs pengemis” tema baru & kreatif, cz slama ni dibuku hanya ada “usahawan vs karyawan” yg tlah byk dbaca.
    persamaanx pd tulisanx sama2 brakhiran “WAN” & perbedaanx pada kata “USAHA vs KARYA” (hehe).

    bagi q “pengemis” tu BUKAN PILIHAN tpi MUSIBAH, org pintar n bijak lah yg akan mberi sumbangan solusi tepat & tdk ad org yg pantas utk menghina mereka (PENGEMIS ORIGINAL/ASLI: org yg benar2 tdk mampu, cacat fisik, lemah mental, yatim/piatu yg masih anak2, lansia, pengungsi akibat bencana/kerusuhan/perang, dst). manusia d dunia SEMUANYA MEMILIKI POTENSI MENGALAMI MUSIBAH-KECELAKAAN-menjadi TUA RENTA kehilangan DAYA/USAHA, krn d dunia ni tidak ada yg namax dewa setengah2.

    BTW, klasifikasi psamaan & pbedaan “pngusaha vs pngemis” agak tumpang tindih, yakni:
    Part1: psamaan > pelanggan (umum/ boleh dikatakan scr keseluruhan)
    Part2:pbedaan > pelanggan (pada bagian jenisnya/ tenyata pd bagian pelangga tdk seluruhx itu sama)
    lalu
    Part1: psamaan > rincian “cara pengemis menarik pelanggan”
    Part2: pbedaan > “cara pengemis menarik pelangga” pd tulisan sbelumx (part1) dijustis sbgai bagian dr pbedaan (pd part2).

    meskipun agak bingung sbb menurutku tumpang tindih ato diriku ni yg kurang pinter pd bidang tsb (..:D). sbelum buat klas’ifikasi, alangkah baikx dbuat dulu taksonomi-x. ad beberapa PREMIS2 yg kurang pas, tpi q te2p SALUT n SEPAKAT dgn SPIRIT KONKLUSInya yg memiliki idealism, smangat.

    dlm “PENGEMIS IMITASI” ud terjelasin “PENGUSAHA yg bsikap & bprilaku layakx PENGEMIS”, lalu

    BAGAIMANA dgn penjelasan “PENGEMIS yg bsikap & bprilaku layakx pengusaha (peMINTA sumbangan PROFESIonal)?..........................

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas masukan-masukannya mas, walau ada beberapa yang aku belom paham dari bahasa yang sampeyan pakai.

      sebenarnya tema Pengemis VS Pengusaha sudah pernah ditulis sebelumnya, cuma sangat berbeda dari yang aku tulis.

      memang pada blog ini masih TERLALU umum dan cenderung belum detail, jika perlu lebih detail saya gak bakalan nulis blog, tapi NULIS BUKU hehehehehe

      btw, untuk tulisanku selanjutnya masih proses mas :D

      Hapus

Posting Komentar